Promo
Tahunan
×
Home » , » Sambutan Penutupan Syaikh Ali Jumu'ah pada Muktamar Ahlussunnah Wal Jamaah Chechnya

Sambutan Penutupan Syaikh Ali Jumu'ah pada Muktamar Ahlussunnah Wal Jamaah Chechnya

Written By Redaksi on Tuesday, 30 August 2016 | 09:45:00


Chehnya - Ketika kita menilik Ahlussunnah Waljamaah dari sisi pemahaman Asy’ari, kita temukan bahwa Asy’ari sendiri mempunyai dua pendapat. Kita temukan juga mazhab pasca Asy’ari bisa jadi mengadopsi pendapat yang manshūsh dan sebuah pendapat mukharraj. Selanjutnya takhrij memiliki mekanisme tersendiri.

Kami temukan kebebasan berpikir dalam bentuk yang paling indah dalam apa yang telah kami pelajari dari para sheikh kami. Ia bukanlah kebebasan tanpa tanggungjawab, fanatisme dan seleksi yang acak. Namun ia adalah penghargaan terhadap pendapat bagi yang mengadopsinya. Ia juga pendapat yang debatable.

Kebanyakan karya Asy’ari telah hilang. Hanya sedikit pendapat murni Asy’ari yang sampai kepada kita. Mana yang lain? Kita sedang berbicara tentang umat, dan kita tidak bicara soal personal. Ketika bicara soal Bukhari, kita benar-benar memegang teguh Bukhari, hingga membuat heran kalangan non-spesialis.

Kita sampaikan, Shahih Bukhari tidak hanya ditulis oleh Bukhari saja, tetapi ia adalah kitab milik umat yang menekuninya, menghasilkan sejumlah mustakhraj, memberikan interpretasi terhadap teks-teks tersebut serta menelusuri makna-makna tersebut dll. Dengan demikian, ia kitab milik umat. Dan semua yang dikritisi dalam Bukhari (sebenarnya) terdapat dalam Al-Quran. Dengan begitu, hal tersebut merupakan langkah pertama untuk menghancurkan Al-Quran setelah kritikus penghancur tersebut berdalih pada koreksi terhadap Imam Bukhari.

Semua pendapat Asy’ari tidak lain hanyalah terjemahan akurat terhadap Al-Quran dan Sunnah. Jika konsepsi ini luput dari salah seorang dari mereka dan mengabaikannya, serta mengikuti doktrin si fulan dan fulan, ia akan tetap berada di bawah payung Ahlussunnah Waljamaah, meskipun ia telah menyalahi pandangan yang diadopsi para ulama.

Metodologi Asy’ari hidup dan memhami realitas. Hanya dengan pendekatan Asy’ari, peradaban bisa terbangun, jika ingin meringkas apa yang disampaikan di podium ini dalam beberapa hari ini. Mengenai ketidaktahuan “an nābitah”, juga karena mereka kehilangan sanad. Suatu hal yang menggelikan, ketika seseorang mencoba merekayasa sanad untuk kaum nābitah, dan setelah kasus tersebut terbongkar dan terbantahkan bahwa sanad semacam itu tidak eksis, saat ini, mereka menyembunyikannya. Sanad mengandung keberkahan. Itulah yang diajarkan oleh para masyayikh, dan berkah mengalir melalui sanad. (Dan saya masih ingat, Nasiruddin Albani pernah berbicara tentang sanad yang diambilnya dari Sheikh Raghib At Thabbakh di perpustakaannya di Aleppo, namun kemudian ia merobeknya karena ia hanyalah sandiwara). Sanad yang menjadi aliran berkah telah menjadi sandiwara? Inilah perbedaan besar antara ahlul ilm, Ahlussunnah Waljamaah, pembawa panji kebebasan berpikir yang terkontrol, yang berdasar pada Al Qur’an dan Sunnah dengan para ashābul ahwā wal bida’.

Alhamdulillah, mayoritas umat, hingga saat ini, masih memegang teguh keyakinan Ahlussunnah Waljamaah, menolak apa yang diadopsi oleh kaum nabitah, kelompok ekstrim dan Neo-Khawarij Kini. Namun kondisi jejaring sosial dalam bahaya besar, dengan godaan yang mereka lancarkan, mereka berhasil mempengaruhi opini satu generasi. Isu ini sangat serius. PR semakin menumpuk. Kita harus bekerja siang dan malam untuk mewariskan agama kita kepada anak-anak dan cucu-cucu kita, sebagaimana yang telah diajarkan oleh para masyayikh dan nenek moyang kita. (Ruaqazhar)
Share this article :

Post a Comment

 
Support : Website | Berita dan Ispiratif | Khabar Populer
Copyright © 2016. KHABAR POPULER - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Khabarpopuler.com
Shared by Jejak Agama | Proudly powered by Site