Promo
Tahunan
×
Home » , , , , » Khaleh Basalamah : Orang Tua Nabi Ahli Neraka

Khaleh Basalamah : Orang Tua Nabi Ahli Neraka

Written By Redaksi Nasional on Wednesday, 22 June 2016 | 20:56:00


Wahabi Takfiri Adalah Kelompok Radikal Yang Mengkafirkan Ummat Islam Tidak Hanya Itu Salah Satu Lagi Dari Mereka Yang Sangat keji Dan Biadap pemikirannya Dan Telah  Mencaci Orang Tua Rasulullah saw bukan Hanya Itu Tapi Sekaligus Mengkafirkan Orang Tua Nabi Saw Adalah Wahabi Takfiri Khalid Basalamah.

Simak Juga Jawaban  Dr,Geulandangan 
 
Khalib Basalamah Juga Mengkafirkan Pelaku Maulid Nabi Muhammad saw dan Mengatakannya warisan Nasrani Dan Syiah ini adalah suatu pernyataan sangat menyedihkan Masak Seorang DR Bisa Kurang Akal Seperti Ini                                                                                                                         Simak Vidio Nya  DiSni  

                                                    Membela Ayah dan Ibu Nabi Muhammad saw

(Tanggapan Terhadap Gembong Wahabi  Khalid Basalamah Atas Tudingan Dua Orang Nabi Muhammad SAW Dalam Neraka)                                                                                                                                        Bagi saudaraku seiman dan seagama bahwasanya akhir-akhir ini ada seklompok yang menamakan dirinya salaf padahal sebenarnya mereka tidak mewakili salaf (tiga kurun yang pertama). Karena hakikatnya ahli kurun yang pertama tidak pernah mengkafirkan sesama Islam apalagi mengkafirkan dua orang tau rasul saw, akan tetapi kelompok ini (pengikut Al-Bani) renan mengkafirkan banyak umat Islam dan bahkan mengatakan dua orang tua nabi Muhammad saw dalam neraka. Nauzubillah.
Maka dalam hal ini sepatutnya kita membela dua orang dengan argumen yang ilmiah yang kuat dan kokoh dalam kaca mata agama kita berlandasan aqidah Ahlisunnah Wal Jama’ah, yang bahwa dua orang tua nabi Muhammad saw adalah ahli surga , Berikut ini adalah dalil-dalilnya :
Dalil Dalil ayat Al-Quran
Surat Al-Baqarah ayat 128
رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَآ إِنَّكَ أَنتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ  (البقرة 128)
Artinya : ya tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-MU,dan anak cucu kami sebagai umat yang berserah diri kepada-MU dan tunjukilah kepada kami cara-cara melakukan ibadah kami dan terimalah taubat kami. Sungguh, engkaulah yang maha penerima taubat lagi maha penyayang.

Surat Ibrahim  ayat 37
رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ الصَّلاَةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ (ابراهيم 37)
Artinya :  Ya Tuhan kami sesungguhnya kami telah mendapatkan sebagian keturunan kami di lembah tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya tuhan (jadikan mereka itu) orang yang mendirikan shalat maka jadikanlah hati sebagian dari manusia yang cenderung kepada mereka,dan berikanlah mereka rizki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.
Surat Ibrahim  ayat 40
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء (ابراهيم 40)
Artinya : Ya Tuhanku jadikan aku dan anak cucuku orang yang tetap  mendirikan shalat, ya tuhan kami terimalah doa’ku
Surat Al-Hajj ayat 78
وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ مِّلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمينَ مِن قَبْلُ وَفِي هَذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاء عَلَى النَّاسِ فَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلاكُمْ فَنِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ ( الحج 78)
Artinya : dan berjihatlah kami di jalan Allah dengan jihat yang sebenar benarnya. Dia tidak memilih kamu dan tidak menjadikan kesukaran kamu di dalam agama ikutlah agama nenek moyangmu Ibrahim as. Dia (Allah) telah menanamkan kamu orang  orang musli sejak dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Quran) ini , agar rasul (Muhammad) itu menjadi saksi atas dirimu dan agar kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia.Maka laksanakanlah salat dan tunaikanlah zakat, dan berpegang teguhlah kepada Allah.Dan ialah pelindungmu , dia sebaik-baik pelindung dan penolong.

Penjelasan
Dalam beberapa ayat di atas dinyatakan bahwa doa nabi Ibrahim kepada seluruh keturunannya  dengan lafaz mutakallim maa gairih   sehingga ayah dan ibu nabi Muhammad saw adalah termasuk golongan yang menyerahkan diri kepada Allah,menjaga baitullah,pendiri shalat dan ini menunjukkan bahwa ayah dan bunda nabi Muhammad saw tergolong dalam orang-orang beriman.
Dalil-Dalil Hadis Rasulullah saw
Hadis Pertama :
وروي ابن مَرْدُوِيَّةِ عن أَنَسٍ رضي الله عنه قال:قَرَأَ رَسُوْلَ الله صَلَّي الله عليه وسلم "لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ  فَقَال عَلِي بْن طَالِبٍ رضي الله عنه :يَا رَسُولَ الله مَا مَعْنَى أَنفُسِكُمْ ؟ انا أَنفُسِكُمْ نَسَبًا وصَهْرًا وَحَسَبًا لَيْسَ فِيَّ وَلَا فِي اَبَائِ مِنْ اَدَمَ سِفاَحِ, كُلُّناَ نِكاَحٌ .

Diriwayatkan dari Ibnu Mardiyyah dari Anas ra berkata ia Rasul saw membaca  ( "لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ "(التوبة128  maka Saidina Ali ra bertanya  pada Rasulullah saw : Apakah makna  dari أَنفُسِكُمْ dalam ayat tersebut wahai Rasulullah saw,lantas rasul menjawab aku keturunanku,kerabatku,leluhurku termasuk dalam dari keturunan hasil zina ,semua dalam keadaan nikah yang sah.
Hadis Kedua :
وَرَوَي الطبرني عَنِ ابْن عَبَاس رضي الله عنهما مرْفُوعًا:مَا وَلَدَني سِفَاحُ الَجاهِلِيَّةِ وَ مَا وَلَدَني اِلَّا نِكَاحٌ كَنكاح اْلاِسَلَامِ
Riawayat dari daraqutni dari Ibnu Abbas hadis secara marfu’ : tidak dilahirkanku dari darah yang jahiliah , dan tidak dilahirkan aku kecuali dalam ikatan nikah Islam.
وَرَوَي البيهاقي, وَابْن عَسَاكِرِ عَن اَنَسٍ رضي الله عنه قال:خَطَبَ النَّبِي صلي الله عليه وسلم فقال اَنَا محمد بْنِ عبد الله بْنِ المطلب بْنِ هَاشِمٍ بْنِ عبد مَنَافٍ بْنِ قُصَي بْنِ كِلَابِ بْنِ مرة بْنِ كَعَبِ بْنِ لُؤَي بْنِ غَالِبِ بْنِ فَهَرِ بْنِ ماَلِكِ بْنِ النِضَر بْنِ كِنَانَةِ بْنِ خريمة بْنِ مدركة بْنِ اِليَاسٍ بْنِ مُضَر بْنِ نِزَارٍ , وَمَا اِفْتَرَقَ النَّاسُ فِرْقَيْنِ اِلاَّ جَعَلَنِي الله فِي خَيْرِهِمَا فَأَخْرَجْتُ مِنْ أَبوي, فَلَم يَصِبنِي شَيٌء مِن عَهْرِ الْجَاهِلِيَّةِ , وخَرَجتُ مِن نِكَاحٍ, وَلَم أَخرُج مِن سِفَاحٍ مِن لَدُنِ اَدَمَ حَتى اِنُتَهَيُت اِلَي أَبِي وأُمِّي فَأَناَ خيرُكُم نفسا و خَيْرُكمْ اَباً
Diriwayatkan oleh Baihaqi dan Ibnu A’sakir dari Anas ra berkata ia : rasulullah saw berkhutbah beliau bersabda : Aku Muhammad bin Abdillah bin Abdil Muthalib bin Hasyim bin Abdil Manaf bin Qusai bin Kilab bin Murah bin Ka’ab bin Luai bin Galib bin Fahar bin Malik bin Nazar bin Kinanah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudzar bin Nizar. Tidaklah terbagi dua kelompok kecuali aku adalah yang terbaik diantaranya maka aku dilahirkan dari orang tuaku dan aku tidak pernah terkena dengan kotoran jahiliyah. Aku dilahirkan dari pernikahan yang sah , dan aku tidak dilahirkan dari Adam hingga sampai kepada Ayahku dan ibuku. Aku adalah sebaik-baik manusia dan aku mempunyai ayah yang terbaik.
Hadis Ketiga :
Dalam Surat A-Syu’ara pada ayat 218-219
الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ (الشعراء 218) وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ(الشعراء 219)
Allah yang melihat engkau ketika engkau berdiri (untuk salat).  
Dan melihat perobahan gerak-gerikmu diantara orang-orang yang sujud.

Para mufassir mentafsirkat ayat tersebut dengan dalam komentarnya
اَنَّ نُوْرَهُ صلي الله عليه وسلم يَتَقَلَّبُ مِنْ سَاجِدٍ اِلَى سَاجِدٍ , اي مِنْ مُصَلٍّ اِلَى مُصَلٍّ
Nur nabi Muhammad saw berpindah dari ahli sujud kepada ahli sujud (ahli iman)
Hadis Keempat :
وَرَوَي اَبُوْ جَعْفَرِ النُّحَاسِ عَنِ ابْنِ عَبَّاٍس رَضَيَ الله عنهما اَنّهُ قَالَ تَقَلَّبَ فِي الظُّهُوْرِ حَتَّي اَخْرَجَ نَبِيَّا.
Diriwayat oleh Abu Ja’far Nuhas diambilkan dari Ibnu Abbas berkata : sesunnguhnya nur nabi Muhammad saw berpindah pada setiap seingga lahirlah beliau.

Hadis Kelima :
 عن ابن رضي الله عنهما لَمْ أَزَلْ الله يَنْقَلُنِي مِنْ اَصْلاَبِ طَيَّبَةٍ اِلَى اَرْحَامٍ طًاهِرَة ٍ
Dari Ibnu Abbas ra sesunnguhnya Allah memindahkan nur-ku dari sulbi-sulbi yang yang suci kepada rahim yang suci
Hadis Keenam :
وقوله صلي الله عليه وسلم فَاَنَا خَيَّارٌ مِنْ خَيَّارٍ اِلَي خَيَّارِ . فَاَنَا خَيْرُكُمْ نَفْسًا خَيْرُكُمْ اَبًا
Sabdanya saw Aku adalah orang yang terpilih dari pada yang terpiih  dan Aku adalah sebaik-baik manusia dan aku mempunyai sebai-baik ayah (Abdullah).

Hadis ini sangat jelas bahwa beliau mempunyai ayah yang baik, bukan kafir karena orang-orang kafir disebutkan dalam Al-Quran adalah golongan najis disegi I’tiqatnya  sebagai mana terdapat dalam surat At-Taubah ayat 28.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ (التوبة 28)
Wahai orang-orang yang beriman sesunguhnya orang musyrik adalah najis (Kufur i’tikatnya)




Hadis Ketujuh :
 وقوله صلي الله عليه وسلم  لَمْ أَزَلْ انْقَلُ مِنْ أَصْلاَبِ الطَّاهِيْرِنَ اِلَى اَرْحَامِ الطَّاهِرَاتِ
Sabda nabi Muhammad saw senantiasa aku berpindah dari segala sulbi yang suci kepada rahim yang suci

Beberapa Tanggapan Para Ulama Terhadap Tudingan Ayah Dan Ibu Nabi Muhammad saw Dalam Neraka
Tanggapan Pertama :
Dalil golongan yang menyatakan orang tua Nabi masuk neraka adalah hadits riwayat Imam Muslim dari Hammad :
أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ أَبِي قَالَ فِي النَّارِ فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ فَقَالَ إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ
Artinya : Bahwasanya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah “ Ya, Rasulullah, dimana keberadaan ayahku ?, Rasulullah menjawab : “ dia di neraka” . maka ketika orang tersebut hendak beranjak, rasulullah memanggilnya seraya berkata “ sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka “.
Imam Suyuthi menerangkan bahwa Hammad perowi hadits di atas diragukan oleh para ahli hadits dan hanya diriwayatkan oleh Imam Muslim. Padahal banyak riwayat lain yang lebih kuat darinya seperti riwayat Ma’mar dari Anas, al-Baihaqi dari Sa’ad bin Abi Waqosh :
اِنَّ اَعْرَابِيًّا قَالَ لِرَسُوْلِ الله اَيْنَ اَبِي قَالَ فِي النَّارِ قَالَ فَأَيْنَ اَبُوْكَ قَالَ حَيْثُمَا مَرَرْتَ بِقَبْرِ كَافِرٍ فَبَشِّرْهُ بِالنَّارِ
Artinya : Sesungguhnya A’robi berkata kepada Rasulullah SAW “ dimana ayahku ?, Rasulullah SAW menjawab : “ dia di neraka”, si A’robi pun bertanya kembali “ dimana AyahMu ?, Rasulullah pun menawab “ sekiranya kamu melewati kuburan orang kafir, maka berilah kabar gembira dengan neraka “
Riwayat di atas tanpa menyebutkan ayah Nabi di neraka.
Ma’mar dan Baihaqi disepakati oleh ahli hadits lebih kuat dari Hammad, sehingga riwayat Ma’mar dan Baihaqi harus didahulukan dari riwayat Hammad.
Dalil mereka yang lain hadits yang berbunyi :
لَيْتَ شِعْرِي مَا فَعَلَ أَبَوَايَ’’ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيْراً وَنَذِيْراً وَلَا تُسْأَلُ عَنْ أَصْحَابِ الْجَحِيْم’’
 Artinya :Demi Allah, bagaimana keadaan orang tuaku ? Kemudian turun ayat yang berbunyi :
Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungan jawab) tentang penghuni-penghuni neraka.

Jawaban :
Ayat itu tidak tepat untuk kedua orang tua Nabi karena ayat sebelum dan sesudahnya berkaitan dengan ahlul kitab, yaitu :
يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ
Artinya :Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk) (Q.S. Albaqarah : 40)
Sampai ayat 129 :
وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ
Semua ayat-ayat itu menceritakan ahli kitab (yahudi).
Bantahan di atas juga diperkuat dengan firman Allah SWT :
وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا
“dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.”
Kedua orang tua Nabi wafat pada masa fatroh (kekosongan dari seorang Nabi/Rosul). Berarti keduanya dinyatakan selamat.
Imam Fakhrurrozi menyatakan bahwa semua orang tua para Nabi muslim. Dengan dasar berikut : Al-Qur’an surat As-Syu’ara’ : 218-219 :
الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ * وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ
 Artinya :Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), dan (melihat pula) perobahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud.
Sebagian ulama’ mentafsiri ayat di atas bahwa cahaya Nabi berpindah dari nenek moyang yang ahli sujud (muslim) ke orang yang ahli sujud lainnya, begitu seterusnya sampai dilahirkan ayah bundanya.
Adapun Azar yang secara jelas mati kafir, sebagian ulama’ menyatakan bukanlah bapak Nabi Ibrohim yang sebenarnya tetapi dia adalah bapak asuhNya dan juga pamanNya.
Hadits Nabi SAW yang telah disebut di atas :
قال رسول الله  لم ازل انقل من اصلاب الطاهرين الى ارحام الطاهرات
“ aku (Muhammad SAW) selalu berpindah dari sulbi-sulbi laki-laki yang suci menuju rahim-rahim perempuan yang suci pula”

Jelas sekali Rasulullah SAW menyatakan bahwa kakek dan nenek moyang beliau adalah orang-orang yang suci bukan orang-orang musyrik karena mereka dinyatakan najis dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ
“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis”
Nama ayah Nabi Abdullah, cukup membuktikan bahwa beliau beriman kepada Allah bukan penyembah berhala.
Bantahan Kedua :
menanggapi hadits riwayat Muslim tentang perkataan Nabi saat menjawab pertanyaan salah satu shahabat: “Ayahku dan ayahmu di Neraka” seperti yang juga disampaikan al-Albani maka harus ada pen-ta’wil-an, dan di antara penta’wilannya adalah:
1.       Yang dimaksudkan dengan kata “ab” dalam hadits tersebut adalah paman sebagaimana budaya Arab yang memanggil pamannya dengan “abu”. Dan hal itu yang terjadi pula pada Azar paman Nabi Ibrahim.
2.       Asbabul wurud hadits (asal-muasal diucapkan hadits) tersebut sebelum turun ayat ke 15 Surat al-Isra’
3.       Hadits riwayat Muslim tersebut adalah hadis Ahad (lawan dari hadits mutawatir), dan hadits Ahad yang dalalah-dhazhanni (hasil dari hadits ahad yang hanya penyangkaan kuat saja dan tidak pasti) tidak bisa menentang dalilqath’i (Q.S. al-Isra’: 15)
4.        Ulama ahli tahqiq (teliti dengan dalil) mengatakan bahwa seyogianya tidak membicarakan masalah ini kecuali dengan adab dan masalah ini juga bukan masalah i’tiqad yang berdosa jika tidak mengetahuinya. Sedangkan menjaga mulut itu lebih baik dan lebih selamat, lebih-lebih dalam masalah yang berkaitan dengan kekurangan-kekurangan.
5.       Al-Qadhi Ibnu Arabi al-Maliki, seorang ahli fiqih dan hadits dari kalangan Malikiyyah, ketika ditanya tentang seseorang yang mengatakan bahwa ayahhanda Nabi masuk Neraka, beliau menjawab: “Orang tersebut dilaknat karena Allah berfirman (Q.S. al-Ahzab: 57): إنَّ الّذِينَ يُؤْذُونَ اللهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللهُ في الدُّنْيَا والآخِرَةِ “Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan rasul-Nya dilaknat oleh Allah di dunia dan akhirat.”
6.       As-Suhaili setelah meriwayatkan hadits al-Hakim dari Ibnu Mas’ud (dan dikatakan shahih olehnya)
سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَبَوَيْهِ فَقَالَ مَا سَأَلْتُهُمَا رَبِّي فَيُعْطِيْنِي فِيْهِمَا وَإِنِّي الْقَائِمُ يَوْمَئِذٍ الْمَقَامَ الْمَحْمُوْدَ
Artinya : “Rasulallah ditanya tentang ayahanda dan ibunda beliau, beliau menjawab: ‘Sesuatu yang aku minta kepada Tuhanku untuk kedua orang tuaku, Allah memberikannya kepadaku untuk kedua orang tuaku, dan aku yang akan mengurus mereka saat dalam maqam mahmud [syafaat].” hadits riwayat al-Hakim tersebut memberikan sebuah isyarat bahwa Rasulallah memberikan syafaatnya kepada orang tua beliau supaya keduanya ditolong ketika terjadi goncangan yang tejadi saat Hari Kiamat.

Rujukan :
Kitab Sadad ad-Din wa Sidad ad-Dain fi itsbat Najah wa Darajat lil Walidain  hal. 104-126
Karya Sayed Muhammad bin Rasul Barzanji

Kitab Minahul Makiyyah Fi Syarhi Hamziyyah  hal.102-103
Karya Ibnu Hajar Al-Haitami


Share this article :

Post a Comment

 
Support : Website | Berita dan Ispiratif | Khabar Populer
Copyright © 2016. KHABAR POPULER - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Khabarpopuler.com
Shared by Jejak Agama | Proudly powered by Site