Promo
Tahunan
×
Home » , » Bersabarlah Dalam Ibadah

Bersabarlah Dalam Ibadah

Written By Redaksi on Friday, 15 April 2016 | 01:38:00

Khutbah Jumat bersama Al-Mukarram Abiya Muhammad Hatta Lc. M.Ed di Mesjid Kp. Laksana Banda Aceh

Bulan Rajab disebut sebagai Syahrullah (bulan Allah). Dinisbahkan bulan ini kepada Allah menunjukkan bahwa bulan ini memiliki keistimewaan dan kelebihan. Hal ini sebagaimana ka'bah yang dinisbahkan kepada Allah sebagai Baitullah (rumah Allah) yang menjadi pertanda bahwa ka'bah memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah Swt.

Rajab terdiri dari 3 haruf, Ra, Jim dan Ba. Sebagian Ulama menafsirkan ra sebagai rahmat. Jim ditafsirkan sebagai jibran (penutup) dari dosa. Dan ba ditafsirkan sebagai birrun artinya ini adalah bulan yang penuh kebaikan. Terletaknya Jibran di antara rahmat dan birrun menunjukkan bahwa di bulan ini kita mendapatkan peluang yang besar untuk memperoleh keampunan dari Allah Swt. Oleh karena itu, kita sangat dituntut untuk meningkatkan amal ibadah di bulan yang mulia ini.

Namun untuk meningkatkan amal ibadah kita perlu bersabar, karena sabar tidak hanya identik dengan musibah, namun juga perlu bersabar untuk menghindari maksiat dan sabar dalam berbuat taat kepada Allah Swt.

Sabar di atas maksiat adalah sabar tatkala menghadapi cobaan dan ujian dari Allah Swt. Inilah yang dimaksud dalam firman Allah...

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعونَ

Adapun sabar yang kedua adalah bersabar untuk menghindari maksiat kepada Allah Swt. Memang maksiat itu cenderung sesuai dengan apa yang diinginkan oleh syahwat dan hawa nafsu. Karena memang Rasulullah telah bersabda:

الجنة حفت بالمكاره، والنار حفت بالشهوات

Syurga dipagari dengan sesuatu yang dibenci, sedangkan neraka dipagari dengan syahwat.

Untuk menuju syurga, kita harus mampu melewati pagar-pagar yang berlawanan dengan keinginan jiwa. Puasa, shalat, tahajjud dan mendirikan malam dengan ibadah adalah sesuatu yang berat untuk dilakukan. Berbeda halnya dengan maksiat, semuanya sesuai dengan apa yang diinginkan oleh nafsu dan syahwat. Namun ketahuilah, di saat jiwa kita telah menuruti keinginan hawa nafsu, disadari atau tidak kita sedang berjalan melewati pagar-pagar yang menghantarkan jiwa kita ke neraka. Nu'uzubillah. Oleh karena itu, kita harus mampu memproteksi jiwa kita untuk mampu bersabar di atas maksiat.

Dan sabar yang ketiga adalah sabar di atas taat. Dan ini adalah sabar yang paling berat. Banyak orang yang mampu menjauhi dirinya dari mencuri, berzina, dan maksiat lainnya. Tetapi jiwa mereka masih berat untuk berbuat taat kepada Allah Swt. Mereka berat untuk shalat, puasa, dan melakukan ibadah-ibadah lainnya. Dan inilah yang disebut oleh Allah dalam Al-Quran...

واستعينوا بالصبر والصلاة وإنها لكبيرة إلا على الخاشعين

Maka oleh karena itu, kita harus mampu memotivasi diri kita, agar mampu bersabar untuk terus meningkatkan ketaatan dan ketaqwaan kepada Allah Swt. Dalam konteks sabar, ada sebuah kisah yang patut untuk dijadikan inspirasi...

Nabiyullah Zakaria adalah seorang Nabi yang hingga usianya telah senja belum mendapatkan keturunan. Hal ini hampir-hampir membuat beliau putus asa, namun beliau tidak pernah bosan dan selalu bersabar untuk terus berdoa.

Pada suatu hari Nabi Zakaria menemukan keponakannya Siti Maryam yang menyepi di dalam mihrab dimana bersamanya ada makanan musim panas tatkala musim dingin, dan sebaliknya. Nabi Zakaria bertanya: "Anna Laki Haza? Dari mana makanan ini semua?." Siti Maryam menjawab: "Haza min 'indiilah, Makanan-makanan ini datangnya dari Allah."

Dari kejadian ini, Nabi Zakaria semakin bertambah keyakinannya kepada Allah. Hal yang secara adat mustahil (sebagaimana yang dialami STI Maryam) namun bisa terjadi dengan izin Allah. Apalagi hal yang masih mungkin terjadi. Nabi Zakaria terus berdoa, bangun malam dan melakukan tahajjud, hingga akhirnya setelah 40 tahun lamanya beliau berdoa dan bersabar dalam beribadah kepada Allah Swt, Allah qabulkan keinginan Nabi Zakaria dengan dikaruniainya seorang anak yakni Nabi Yahya.

Kisah ini sejatinya menjadi pelajaran bagi kita. Dimana Nabi Zakaria yang merupakan seorang Nabi, namun rela bersabar dalam ibadah selama 40 tahun hanya untuk menanti hadirnya seorang buah hati tercinta. Apalagi kita manusia-manusia yang lemah ini, tentu saja kita harus lebih bersabar agar menjadi hamba-hamba yang diridhai oleh Allah Swt.

Nasehat dalam Khutbah Jumat yang disampaikan oleh Almukarram Abiya Muhammad Hatta, Lc. M.Ed, di Mesjid Kp. Laksana, Banda Aceh (15/4/2016).

Silahkan dishare, Semoga bermanfaat!
Share this article :

Post a Comment

 
Support : Website | Berita dan Ispiratif | Khabar Populer
Copyright © 2016. KHABAR POPULER - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Khabarpopuler.com
Shared by Jejak Agama | Proudly powered by Site