Promo
Tahunan
×
Home » , » Sepucuk Surat Untuk Gubernur Aceh

Sepucuk Surat Untuk Gubernur Aceh

Written By Martunis Nisam on Friday, 25 March 2016 | 05:54:00


Oleh | Teugku Muhammad Khairi

Bapak pemimpin Naggroe Aceh tanoh aulia yang mulia, Bapak Gubernur kita ingin mengajak bapak sedikit membuka lembaran sejarah pendidikan di Aceh agar bapak tahu siapa yang pertama sekali pelopor pendidikan di Aceh dan siapa sebenarnya yang berperan dalam pendidikan di Aceh. Disini kita hanya menjelaskan sejarah nya secara ringkas saja  agar tidak banyak menyita waktu bapak karena kita tahu bapak dalam keadaan sibuk mengurusi kemajuan rakyat.

Pendidikan di Aceh Serambi Mekah sebelum masuknya Belanda adalah pendidikan dayah dibawah naungan kerajaan Aceh. Dayah sebagai lembaga pendidikan tunggal mengembangkan ilmu pengetahuan umum dan ilmu pengetahuan agama.  Pendidikan dayah maju pesat dan mejalankan fungsi utamanya sebagai lembaga pendidikan yaitu mencerdaskan kehidupan manusia, baik rohani maupun jasmani.

Namun, setelah hadirnya Belanda ke Aceh, lembaga pendidikan dayah mengalami penurunan yang signifikan dengan didirikan sekolah-sekolah tandingan oleh Belanda sebagai kontra pendidikan dayah, sekolah yang berbeda jauh dari sistem pendidikan dayah yang berlandaskan pelajaran umum dan Agama Islam.

Sekolah Belanda diajarkan pengetahuan-pengetahuan umum seperti matematika, ilmu bumi, bahasa Belanda dan sebagainya, sedangkan mata pelajaran Agama ditiadakan. Belanda juga mengguyur dana yang besar untuk mendirikan dan mengembangkan sekolah tersebut. Belanda berupaya agar rakyat Aceh, terutama para pembesarnya bisa dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran barat yang anti Islam anti nilai-nilai keislaman.

Sedangkan dayah ketika itu sangat dikekang karena selain sebagai pusat pendidikan Islam dan umum, dayah juga berfungsi sebagai basis perjuangan rakyat Aceh melawan Belanda, dayah sangat loyal terhadap perjuangan rakyat Aceh ketika itu sehingga dayah merupakan musuh bebuyutan Belanda. Lembaga pendidikan Dayah yang dahulunya maju pesat terhambat oleh perang, pendidikan tidak lagi difokuskan untuk mengkaji ilmu-ilmu pengetahuan, namun lebih diutamakan untuk memproduk penjuang-pejuang yang tangguh.

Seiring perjalanannya karena menghadapi berbagai kesulitan dan  problematika yang amat berat baik moril atau materil, dayah tidak lagi sanggup memangku ilmu pengetahuan agama dan umum secara sekaligus, maka dengan berbagai pertimbangannya dayah lebih memilih untuk mengembangkan ilmu agama demi menjaga moral umat. Dengan demikian lembaga  pendidikan dayah hanya mengambil peran di sektor pendidikan agama dan  sekolah berperan dalam pendidikan umum. Keadaan ini berlangsung sejak datangnya belanda hingga saat ini.

Jika kita lihat cuplikan sejarah tersebut, kita bisa bayangkan bagaimana beratnya tantangan yang dihadapi oleh lembaga pendidikan berbasis  agama tersebut dari masa ke masa hingga saat ini. Lembaga pendidikan dayah di Aceh Serambi Makkah belum pernah mencicipi kemajuan semenjak datangnya Belanda ke Aceh hingga saat ini, pendidikan agama yang tidak ada satupun aneuk nanggroe yang hidup masa kanak-kanak di Aceh yang tidak merasakannya, berbanding terbalik dengan lembaga pendidikan umum lainnya yang terus mengalir dukungan semenjak pemerintahan belanda hingga sekarang.

Kemirisan ini membuat kita bertanya-tanya, mengapa hal ini terjadi, kenapa nasib pendidikan dayah sedemikian memprihatinkan, apakah pendidikan dayah dianggap tidak memiliki dedikasi terhadap kehidupan masyarakat di Aceh, atau dayah hanya sebagai sebuah batu penghalang terhadap kemajuan zaman yang semakin pesat, sehingga dayah dianggap sebagai lembaga pendidikan yang kolot dan tidak berhak mendapat perhatian, atau lembaga pendidikan dayah tidak termasuk kedalam sebuah lembaga pendidikan di Aceh dan bukan milik rakyat Aceh.

Bukankah pendidikan dayah yang dari semenjak dahulu hingga sekarang berperan aktif dalam mengawal akidah dan moral anak bangsa mulia ini. Bukankah dayah melalui alumninya yang mendidik anak-anak bangsa mulia ini di pelosok desa terpencil sehingga generasi ini tidak melakukan zina dan pelacuran dimana-mana, Bukankah lembaga pendidikan dayah yang membendung generasi penerus bangsa ini agar tidak mabuk-mabukan, melakukan perampokan, pencurian, geng motor dan tindakan kriminal lainnya. Bukankah para da'i jebolan lembaga pendidikan dayah yang selama ini menentang habis-habisan upaya penggeseran  dan penghacuran nilai-nilai syari'at, agama, budaya, etika dan peradaban bangsa ini.

Bukankah pendidikan dayah melalui balai pengajiannya mengajar Aqidah dan Al-Qur'an kepada anak-anak miskin di desa-desa terpencil dengan tanpa biaya sepeserpun. Bukankah pendidikan dayah yang sejak dulu hingga sekarang menelurkan imam-imam mesjid dan desa sebagai rujukan spiritual masyarakat akar rumput. Bukankah lembaga pendidikan dayah yang sejak dulu hingga sekarang membidani para ulama yang antipati terhadap upaya liberalisasi dan ajaran sesat yang menggerogoti kemurnian agama ini. 

Pernahkah kita melihat anak bangsa cuco aulia ini melakukan zina dihadapan orang tuanya sebagaimana kita lihat di daerah-daerah lain, pernahkah kita mendengar anak-anak mabuk-mabukan berjama'ah di depan umum sebagaimana yang kita dengar terjadi di daerah-daerah lain. Pernahkah kita dikejutkan dengan terjadinya kumpul kebo seperti yang terjadi pada muda mudi daerah lain. Pernahkah kita menggelengkan kepala melihat anak bangsa ini berduyun-duyun murtad sebagaimana yang kita lihat di daerah lain.  Ini membuktikan bahwa peran lembaga pendidikan agama sangat besar dalam mendidik moral dan aqidah bangsa ini.

Kita tidak bermaksud membanding-bandingkan antara pendidikan umum dengan pendidikan agama, namun kita merasa prihatin dengan pendidikan agama yang selama ini tertatih-tatih hanya untuk mendirikan sebuah balai ngaji di saat anak-anak terkadang telah membludak. Kita merasa sedih melihat anak-anak ngaji di jalanan mencari sumbangan dan masyarakat mencibirnya.

Kita merasa iba melihat guru-guru pendidikan agama di balai-balai pengajian memungut kayu rumah bekas warga hanya untuk mendirikan mushalla tempat anak-anak beribadah. Sementara pendidikan umum dengan berbagai fasilitasnya banyak yang terlantar, banyak ruang yang dijadikan gudang, buku-buku yang tersusun rapi dirak-rak mewah tidak pernah dijamah,  fasilitas kantor yang nyaman dipenuhi pendingin ruangan, alat belajar mengajar yang lengkap plus tranportasi yang memadai.

Padahal pendidikan dayah ini tidak menuntut banyak, mereka tidak meminta gaji, tidak meminta kemewahan, tidak meminta ruang-ruang belajar beton permanen, tidak meminta ruang kantor yang mewah, mereka hanya butuh balai pengajian dan mushalla tempat anak-anak belajar dan beribadah itupun sesuai dengan kebutuhan, jika anak hanya berjumlah belasan maka mereka hanya butuh satu balai saja, jika puluhan mungkin mereka hanya butuh dua balai, jika seratusan anak mungkin mereka butuh sepuluh balai dan satu mushallah jika sudah mencapai ribuan mereka hanya butuh seratusan balai saja, yang harganya tidak terlalu mahal, perkiraan satu balai sederhana tiga puluh juta saja, tidak perlu miliaran.

Tulisan ini kita layangkan tidak ada unsur politis atau maksud merendahkan salah satu pihak, melainkan bentuk keprihatinan terhadap lembaga pendidikan agama rakyat yang tidak ada perhatian yang memadai,  kita juga mendapat kabar bahwa dana untuk pendidikan dayah yang selama ini di salurkan telah dihentikan. Dana yang sedikit dan kemudian dihentikan, sungguh miris.

Kita harap goresan ini bisa menjadi pertimbangan bapak. Kita tahu bahwa ada ketimpangan dalam penyaluran dana tersebut sebelumnya, terjadi penyaluran dana ke beberapa balai pengajian fiktif yang dilakukan oleh beberapa oknum, numun tidak fair rasanya jika alasan teknis tersebut dijadikan sebagai generalisasi terhadap keseluruhan dan menjadi alasan terhadap penghentian tersebut. Bahkan di lembaga lainnya juga penyelewengannya lebih besar lagi, namun kita tidak mengungkit-ungkit itu.

Kita juga merasakan sinisme sebagian kalangan yang menganggap rendah lembaga pendidikan keagamaan di Aceh. Menganggap dayah tidak cocok mendapatkan dukungan pemerintah, "dayah bek melemeh-lemeh ngon pemerintah", kita katakan, lembaga dayah dulunya didirikan dan didukung oleh kerajaan Aceh, hingga mencapai puncaknya.

Pendidikan dayah tidak ubahnya seperti pendidikan di Universitas Al-Azhar Mesir, mereka maju dan mendunia dengan dukungan pemerintah sejak dulu hingga sekarang, jika saja Al-Azhar itu berada di Aceh sungguh Al-azhar tidak akan maju seperti sekarang, begitu juga sebaliknya, jika dayah di Aceh berada di Mesir sungguh dayah akan mendunia layaknya Al-Azhar sekarang. Sekali lagi,  tidak ada satu orangpun rakyat yang hidup di Aceh tidak terkait dengan pendidikan Agama yang pusatnya adalah dayah.

Mudah-mudahan tulisan ini sampai kepada bapak Gubernur dan bapak membacanya serta mempertimbangkannya dalam masa-masa sisa jabatan bapak, semoga menjadi amal ibadah bapak di kemudian hari.

Teugku Muhammad Khairi
Sekretaris BP (Balai Pengajian) Sirajul Munir Al-Waaliyyah, Desa Paya Gajah, Kecamatan Peureulak Barat Kabupaten Aceh Timur
Share this article :

Post a Comment

 
Support : Website | Berita dan Ispiratif | Khabar Populer
Copyright © 2016. KHABAR POPULER - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Khabarpopuler.com
Shared by Jejak Agama | Proudly powered by Site