Promo
Tahunan
×
Home » , » Kisah Teladan Nusaibah Binti Kaab ra, Perempuan yang Sebanding dengan Seribu Laki-Laki

Kisah Teladan Nusaibah Binti Kaab ra, Perempuan yang Sebanding dengan Seribu Laki-Laki

Written By Martunis Nisam on Thursday, 18 February 2016 | 03:46:00

Kisah Teladan Nusaibah Binti Kaab ra, Perempuan yang Sebanding dengan Seribu Laki-Laki
Sahabatku yang dimuliakan Allah, betapa banyaknya fitnah yang dilontarkan kaum feminis atas agama kita yang menurut mereka terlalu mendiskreditkan posisi perempuan. Mereka beranggapan bahwa posisi perempuan begitu rendah disisi laki-laki, bahkan tidak memiliki kelayakan untuk dapat ikut serta melakukan perubahan bersama laki-laki. Namun sebagai muslimah kita harus mengetahui dengan baik bahwa Allah begitu mengistimewakan perempuan.

Perempuan mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan kapasitas diri agar setara dengan laki-laki. Hal ini juga telah banyak dibuktikan pada zaman kenabian di mana para istri dan shabiyah diberikan kesempatan oleh Rasul untuk dapat menimba ilmu dengan maksimal dan berperan serta dalam da’wah. Tidak hanya menjadi istri dan ibu rumah tangga yang aktif di dalam rumah, mereka pun diberikan kebebasan untuk tetap belajar dan berkontribusi bahkan sampai turun ke medan perang. Dan salah satu contoh perempuan yag kedudukannya begitu dimuliakan oleh Islam adalah Nusaibah binti Ka’ab ra.

Nusaibah binti Ka'ab Al-Anshariyah atau lebih dikenal dengan Ummu Imarah, adalah salah satu dari 2 perempuan yang bergabung dengan 70 laki-laki Anshar yang berbai’at kepada Rasulullah di Aqabah. Ia adalah seorang sahabat perempuan yang mulia dan pemberani. Kisah tentang perjuangan dan keberaniannya telah diakui oleh Islam.

1.Perempuan Yang Sangat Memahami Perannya

Ummu Imarah hampir selalu ikut dalam setiap peperangan bersama suami dan anaknya. Ia pergi untuk memberikan contoh mulia sebagai seorang perempuan yang tidak hanya luar biasa di dalam rumah tetapi juga di luar rumah.

Ia menyadari dengan benar perannya sebagai istri yang senantiasa ada di sisi suaminya, juga perannya sebagai ibu yang melindungi dan memberi contoh mulia bagi anak-anaknya.

Namun selain kedua hal tersebut Nusaibah juga menyadari bahwa ia harus memberikan contoh kepada para muslimah untuk selalu ikut serta dan berperan aktif dalam menegakkan kebenaran.

Seperti yang dicontohkannya dalam setiap peperangan, ia selalu pergi bersama pasukan muslim untuk memberi minum prajurit yang kehausan dan mengobati prajurit yang terluka. Dan di lain kesempatan ia bahkan ikut berperang melawan musuh dan melindungi Rasulullah Saw.

Tidak peduli pada posisi apa kita berada, tekad untuk aktif berda’wah membela agama Allah adalah landasan terpenting yang harus ditanamkan oleh setiap perempuan di seluruh penjuru dunia.

2.Perisai Rasulullah

Nusaibah adalah salah satu sahabiyah yang selalu berada di samping Rasulullah ketika sedang berperang melawan kaum musyrik. Diceritakan saat itu kaum muslimin mengalami kekalahan, Ummu Imarah pun segera berlari menuju Rasul. Ia melompat dan melindungi Rasul dengan pedangnya. Ia juga melemparkan anak panahnya ke musuh-musuhnya, meski ia sendiri mengalami banyak luka.

Seketika itu datanglah Ibnu Qomi’ah yang hendak membunuh Rasulullah. Maka berdirilah Ummu Imarah di antara keduanya. Melihat hal itu Ibnu Qomi’ah memukul bagian belakang leher Ummu Imarah dengan keras hingga luka parah. Namun Ummu Imarah kembali membalas dengan beberapa pukulan. Meskipun seorang perempuan, Ummu Imarah tidak gentar dan lemah. Ia tetap berada di medan perang melindungi utusan Allah yang sangat dicintainya, Rasulullah Saw.

Sahabat, perempuan diciptakan oleh Allah dengan segala kelemahlembutannya. Namun sifat tersebut tidak boleh menghalangi kita untuk bersikap tegas terhadap orang-orang kafir yang hendak menghina agama-Nya dan melecehkan para utusan-Nya. Kecintaan kita terhadap apa yang kita cintai seharusnya tidak membuat kita lemah, melainkan sebaliknya membuat kita makin kuat. Seperti yang dicontohkan Ummu Imarah, ketika melihat Rasul yang dicintainya didekati musuh, ia tidak merasa takut namun justru merasa terdorong untuk melindungi Rasul dan menjadi salah satu perisainya.

3.Perempuan dengan kedudukan yang mulia

Rasulullah Saw menetapkan keutamaan kepada Nusaibah ra atas apa yang telah ia lakukan pada perang Uhud. Ia telah melampaui begitu banyak laki-laki. Atas dasar tersebut suatu ketika Rasul bersabda, “kedudukan Nusaibah binti Ka’ab pada hari itu lebih baik daripada kedudukan fulan dan si fulan”. Beliau juga bersabda, “ia tidak berpaling  ke kanan atau ke kiri kecuali aku melihatnya terus berperang demi aku.”

Beliau juga mengatakan kepada putra Nusaibah yang bernama Abdullah, “barakallahu ta’ala atas kalian wahai ahlul bait. Kedudukan ibumu lebih baik dari fulan dan fulan. Dan kedudukan suami ibumu Ghaziyyah bin Amr lebih baik dari fulandan si fulan. Semoga Allah lebih merahmati kalian wahai ahlul bait”

Sahabat, dari kisah tersebut kita dapat mengetahui bagaimana kedudukan Ummu Imarah yang begitu diutamakan oleh Rasul. Sebagai perempuan kedudukannya bahkan melampaui sahabat-sahabat Rasul yang saat itu juga ikut berperang. Hal itu menandakan siapa saja, tidak peduli laki-laki atau perempuan, semua diberi kesempatan yang sama untuk berlomba-lomba dalam kebaikan dan berkontribusi dalam da’wah untuk menegakkan kebenaran.

4.Cita-citanya tinggi dan mahal

Ketika Nusaibah ra mendengar pujian Rasulullah Saw terhadap dirinya dan keluarganya, ia mendapatkan kesempatan untuk meminta sesuatu atas kegigihannya membela Rasul dan agama Allah. Ia tidak meminta harta dan kedudukan, karena baginya tingginya kedudukan di mata manusia tidaklah ada gunanya daripada tingginya kedudukan di mata Allah.

Nusaibah berkata kepada Rasul Saw, “ya Rasul, berdoalah kepada Allah Ta’ala agar kami dapat menemanimu di syurga”. Tidak ada alasan bagi rasul untuk tidak mengabulkan permintaan itu dengan segera. Maka Rasul Saw berdoa kepada Allah Swt dengan mengatakan, “Ya Allah, jadikanlah mereka orang-orang yang akan menemaniku di syurga.”

Setelah mendengar kabar gembira dan doa Rasulullah Saw tersebut, Nusaibah ra berkata, “Aku tidak akan peduli dengan apa yang akan menimpaku dari urusan dunia setelah ini.”

Sahabat, memiliki cita-cita yang tinggi di dunia adalah sesuatu yang wajar bagi manusia. Namun lebih dari itu kita harus memiliki cita-cita yang tinggi untuk akhirat, karena sesungguhnya kehidupan di akhirat itu kekal dan dunia adalah persinggahan sementara menuju akhirat.

5.Luka yang membahagiakan

Melihat peristiwa lain dalam perang yang diikuti Nusaibah, yaitu perang Yamamah, saat itu kaum muslim sedang berperang melawan Musailamah Al Kadzab. Nusaibah ra pergi bersama putranya Abdullah ra bersama kaum muslimin. Tujuan utamanya adalah ingin menjatuhkan Musailamah di medan perang.

Ummu Imarah akhirnya dapat berhadapan dengan Musailamah. Meski ketika hendak membunuhnya ia dalam keadaan luka parah karena tangannya terputus. Akan tetapi hatinya merasa bahagia dan mendapatkan ketenangan ketika ia mendapatkan kabar bahwa Musailamah telah tewas dan ia ikut andil dalam tewasnya musuh Allah itu.

Ketika Abdullah putranya memegang tangan Nusaibah dan memapahnya menuju jenazah Al Kadzab berada, Ummu Imarah berkata, “tidak ada satupun yang dapat menghalangiku hingga aku melihat manusia kotor ini telah dibunuh.”

Sahabat, kecintaan Nusaibah pada Rasulullah dan agama Allah telah menjadi kekuatan bagi hati dan raganya. Tidak peduli berapa banyak hambatan dan luka yang akan mendera sekujur tubuhnya, atau bahkan hingga ia meregang nyawa, ia tetap gigih melawan kaum musyrik yang hendak melecehkan Islam. Sepatutnya kita meneladani sikap yang dicontohkan oleh Nusaibah.

Perempuan tidak layak menjadi lemah bahkan ketika harus berhadapan langsung dengan musuh-musuh Allah. Karena sejatinya kekuatan ada di dalam hati, bukan semata ada di raga. Namun kekuatan raga juga menjadi salah satu faktor yang mendukung kesuksesan Nusaibah berjuang di medan perang. Oleh karena itu perempuan haruslah memperhatikan jasadnya. Menjadi perempaun yang kuat itu jauh lebih dimuliakan oleh Allah, daripada menjadi perempaun yang lemah dan tidak berdaya.

Sahabat, Nusaibah telah memberikan inspirasi kepada kita para perempuan muslim, bahwa salah satu peran kita hari ini adalah menjadi bagian aktif dalam da’wah. Da’wah dapat dilakukan di dalam keluarga, masyarakat bahkan negara. Perempuan juga hendaknya menanamkan investasi sebagaimana para sahabiyah berinvestasi di jalan da’wah. Kecintaan itu harus ditanamkan di dalam diri kita sebagai perempuan, sebagai istri dan ibu dari anak-anak kita. Hal itu akan menimbulkan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya dalam diri anak-anak kita.

Kita juga dapat memberikan kekuatan kepada suami kita dengan terus mendampinginya dalam setiap situasi. Tidak diam dalam tantangan dan kekhawatiran, tetapi justru melakukan tindakan luar biasa yang akan meninggikan derajat kita di mata Allah. Allahu a’lam

Referensi:

-Perempuan Istimewa Teladan Di Medan Dakwah, karya Muhammad Husain Isa)

Profil penulis:Een Kurniati adalah seorang ibu rumah tangga
Dikutip dari Ummi Online
Share this article :

+ komentar + 1 komentar

8 March 2016 at 22:00

Subhanallah... Bagus sekali. Saya mengagumi tokoh perempuan islam yg bernama Hafshah binti umar bin khatabb yg sekaligus jadi istri nabi Muhammad SAW.

Post a Comment

 
Support : Website | Berita dan Ispiratif | Khabar Populer
Copyright © 2016. KHABAR POPULER - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Khabarpopuler.com
Shared by Jejak Agama | Proudly powered by Site