Promo
Tahunan
×
Home » , , , , » Bantahan Terhadap Pernyataan Ajidar Matsyah Lc Oleh AN-NAJAH CENTRE KOTA BANDA ACEH

Bantahan Terhadap Pernyataan Ajidar Matsyah Lc Oleh AN-NAJAH CENTRE KOTA BANDA ACEH

Written By Redaksi Nasional on Sunday, 14 February 2016 | 09:16:00


Beberapa jawaban terhadap tudingan direktur Dayah Tinggi Samudera Pasee (INSIS) Baktiya, Aceh Utara, Dr. Tgk. H. Ajidar Matsyah, Lc MA saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi Luwak, Jeulingke Banda Aceh, Rabu 3 Februari 2016, malam sebagaimana dikutip oleh http://portalsatu.com 



1. Sudahkah kita mengenal imam syafi’I kita dan muridnya ?

Kita bukan hanya saja mengkaji ilmunya akan tetapi kita sudah mengenal siapa yang kita ikuti dan yang dikatakan mazhab Syafi’I bukan hanya pendapat Syafi’I tetapi pendapat Syafii dan juga Syafiiyah baca Karena itu, tidak ada perbedaan antara Mazhab Syafi’i dan Syafi’iyah, bahkan tidak ada seorang ulama pun yang membedakan makna Mazhab Syafi’i dengan Syafi’iyah. Tentunya, bila kita mengerti seluk-beluk mazhab dengan segala qanun asasi yang telah ditetapkan oleh pendirinya, maka menjadi suatu hal aneh bila mempertanyakan kesesuaian antara pendapat Imam al-Syafi’i dengan para muridnya dikarenakan setiap analisa yang lahir dari pemikiran para muridnya tidak pernah terlepas dari aturan baku (qa’idah) Imam al-Syafi’i sendiri.

2. Urutan Istidlal (mengambil dalil) para ulama Aceh?

Para ulama tidak ada yang membedakan tentang kedudukan sumberi empat pokok empat dalim Al,Quran,Hadis,Qias dan Ijmak akan tetapi semua itu mempunyai kekudukan yang sama dalam pengembilan suatu hukum syara’ karena ijmakdan Qias pada hakikatanya adalah makna yang tersirat dari Al-Quran dan hadis itu sendiri hal ini telah dijelaskan dalam kitab Usul Fiqh, sedangkan makna dari perkataan imam Syafi’I
إذا صح الحديث فهو مذهبي
Apabila saheh hadits maka itulah mazhabku

Ada baiknya kita lihat bagaimana komentar Imam Nawawi dalam kitab Majmu’ terhadap wasiat Imam Syafii tersebut. Imam Nawawi mengatakan :

وهذا الذى قاله الشافعي ليس معناه ان كل أحد رأى حديثا صحيحا قال هذا مذهب الشافعي وعمل بظاهره: وانما هذا فيمن له رتبة الاجتهاد في المذهب على ما تقدم من صفته أو قريب منه: وشرطه أن يغلب على ظنه أن الشافعي رحمه الله لم يقف على هذا الحديث أو لم يعلم صحته: وهذا انما يكون بعد مطالعة كتب الشافعي كلها ونحوها من كتب أصحابه الآخذين عنه وما أشبهها وهذا شرط صعب قل من ينصف به وانما اشترطوا ما ذكرنا لان الشافعي رحمه الله ترك العمل بظاهر أحاديث كثيرة رآها وعلمها لكن قام الدليل عنده على طعن فيها أو نسخها أو تخصيصها أو تأويلها أو نحو ذلك                   

“Bukanlah maksud dari wasiat Imam Syafii ini adalah setiap orang yang melihat hadits yang shahih maka ia langsung berkata inilah mazhab Syafii dan langsung mengamalkan dhahir hadits. Wasiat ini hanya di tujukan kepada orang yang telah mencapai derajat ijtihad dalam mazhab sebagaimana telah terdahulu (kami terangkan) kriteria sifat mujtahid atau mendekatinya. syarat seorang mujtahid mazhab baru boleh menjalankan wasiat Imam Syafii tersebut adalah telah kuat dugaannya bahwa Imam Syafii tidak mengetahui hadits tersebut atau tidak mengetahui kesahihan haditsnya. Hal ini hanya didapatkan setelah menelaah semua kitab Imam Syafii dan kitab-kitab pengikut beliau yang mengambil ilmu dari beliau. Syarat ini sangat sulit di penuhi dan sedikit sekali orang yang memilikinya. Para ulama mensyaratkan demikian karena Imam Syafii mengabaikan makna eksplisit dari banyak hadits yang beliau temukan dan beliau ketahui namun itu karena ada dalil yang menunjukkan cacatnya hadits itu atau hadits itu telah di nasakh, di takhshish, atau di takwil atau lain semacamnya”. (Majmuk Syarh Muhazzab Jilid 1 hal 64).

Dari komentar Imam Nawawi ini sebenarnya sudah sangat jelas bagaimana kedudukan wasiat Imam Syafii tersebut, kecuali bagi kalangan yang merasa dirinya sudah berada di derajat mujtahid mazhab yang kata Imam Nawawi sendiri pada zaman beliau sudah sulit di temukan.

3. Kemudian dalam kitab Mahalli terdapat pernyataan bahwa ta’ziah itu cuma terbatas 3 hari saja lebih dari padanya adalah makruh, namun adakah anda melihat dibawahnya musannif (pengarang) mendefinisikan apa itu ta’ziah. Ta’ziah adalah mengucapkan kata-kata sanjungan kepada ahli mayit supaya bersabar karena ditimpa musibah , sedangkan praktek dari masyarakat Aceh sekarang adalah 7,10,30,,40 bahkan setahun bukan maknanya Ta’ziyah tapi berdoa kepada orang yang meninggal dan berdoa tersebut tidak ada batas waktu kapanpun, sejauh ini tidak ada dalil yang mengharamkan setujoh tersebut yang di dalamnya berupa acara doa serta zikir yang hukumnya malah sunnah bukan sekali-kali bid’ah.

Sedangkan dalil dari senujoh adalah Asar dari Imam Thawus RA

وقد روي عن مجاحد ان الموتى كانوا يفتنون في قبورهم سبعا فكانوا يستحبون ان يطعم عنهم تلك الايام
وعن عبيد بن عمير : قال المؤمن يفتن سبعا والمنافق اربعين صباحا

Artinya : diriwayatkan dari Imam Mujahid Sesungguhnya orang meninggal difitnah dalam kubur selama tujuh hari, maka para salaf mencintai memberi makan selama tujuh hari.
Dan dari Ubaid bin Amir diriwayatkan sesungguhnya orang mukmin difitnah selama 7 hari sedangkan orang munafik 40 hari . Seunujoh adalah tradisi Salafu Shalih yang mana mereka adalah lebih tau tentang sunnah dan lebih dekat dengan masa rasulullah saw.

Kemudian tudingan para ulama tidak bisa mengafal Al-Quran ini tidak benar sama sekali mungkin ini tidak tepat karena para kita sekarang di Aceh adalah bisa menghafal Al-Quran, Cuma karena bapak Ajidar sudah lama berpisah dengan para ulama maka beliau tidak tau wajah ulama kita sebenarnya sedangkan berbahasa Arab ulama Aceh sangat mahir dalam membaca kitab-kitab kuning yang kitab kuning tersebut semuanya bahasa Arab, maka tudingan ulama tidak bisa bahasa Arab adalah sangat amat keliru juga. Bahasa Arab yang menjadi syarat kepada ulama ulama adalah bahasa fasahah bukan bahasa Arab percakapan sehari-hari karena untuk membaca kitab kuning gundul butuh bahasa arab fasahah yang saya sebutkan tadi.

Kesimpulan

1.      Bahwa semua ajakan ulama Aceh sekarang berdasarkan referensi yang kuat bukan taqlid buta semata

2.      Jika ulama kita tidak cukup referensi coba saudara sebutkan referensi yang mana belum ada di Aceh ? apa lagi sekarang adalah zaman yang informasi sangat cepat, kitab-kitab bisa di akses langsung melalui internet dengan mudah.

3.      Ulama kita patut dikatakan ulama karena pemersatu ummat bangsa dan Negara

Wallahu A’lam

   
Share this article :

Post a Comment

 
Support : Website | Berita dan Ispiratif | Khabar Populer
Copyright © 2016. KHABAR POPULER - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Khabarpopuler.com
Shared by Jejak Agama | Proudly powered by Site