Promo
Tahunan
×
Home » » [Opini] GAM, Dimasa Lampau Mampu Seragamkan Siswa Islami, Bagaimana GAM Sekarang?

[Opini] GAM, Dimasa Lampau Mampu Seragamkan Siswa Islami, Bagaimana GAM Sekarang?

Written By Redaksi on Sunday, 10 January 2016 | 08:50:00

Oleh: Imam Mahdi

Wikipedia menjelaskan bahwa Gerakan Aceh Merdeka, atau GAM adalah sebuah organisasi yang memiliki tujuan supaya Aceh lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Konflik antara pemerintah RI dan GAM yang diakibatkan perbedaan keinginan ini telah berlangsung sejak tahun 1976.  Gerakan ini juga dikenal dengan nama Aceh Sumatra National Liberation Front (ASNLF). GAM dipimpin oleh Hasan di Tiro selama hampir tiga dekade bermukim di Swedia dan berkewarganegaraan Swedia. Pada tanggal 2 Juni 2010, ia memperoleh status kewarganegaraan Indonesia, tepat sehari sebelum ia meninggal dunia di Banda Aceh.

Pada 4 Desember 1976 inisiator Gerakan Aceh Merdeka Hasan di Tiro dan beberapa pengikutnya mengeluarkan pernyataan perlawanan terhadap pemerintah RI yang dilangsungkan di perbukitan Halimon di kawasan Kabupaten Pidie. Diawal masa berdirinya GAM nama resmi yang digunakan adalah AM, Aceh Merdeka. Oleh pemerintah RI pada periode 1980-1990 nama gerakan tersebut dikatakan dengan GPK-AM. Perlawanan represif bersenjata gerakan tersebut mendapat sambutan keras dari pemerintah pusat RI yang akhirnya menggelar sebuah operasi militer di Provinsi Daerah Istimewa Aceh yang dikenal dengan DOM (Daerah Operasi Militer) pada paruh akhir 80-an sampai dengan penghujung 90-an, operasi tersebut telah membuat para aktivis AM terpaksa melanjutkan perjuangannya dari daerah pengasingan. Disaat rezim Orde Baru berakhir dan reformasi dilangsungkan di Indonesia, seiring dengan itu pula Gerakan Aceh Merdeka kembali eksis dan menggunakan nama GAM sebagai identitas organisasinya.

Konflik antara pemerintah RI dengan GAM terus berlangsung hingga pemerintah menerapkan status Darurat Militer di Aceh pada tahun 2003, setelah melalui beberapa proses dialogis yang gagal mencapai solusi kata sepakat antara pemerintah RI dengan aktivis GAM. Konflik tersebut sedikit banyak telah menekan aktivitas bersenjata yang dilakukan oleh GAM, banyak di antara aktivis GAM yang melarikan diri ke luar daerah Aceh dan luar negeri. Bencana alam gempa bumi dan tsunami pada 26 Desember 2004 telah memaksa pihak-pihak yang bertikai untuk kembali ke meja perundingan atas inisiasi dan mediasi oleh pihak internasional.

Pada 27 Februari 2005, pihak GAM dan pemerintah RI memulai tahap perundingan di Vantaa, Finlandia. Mantan presiden Finlandia Marti Ahtisaari berperan sebagai fasilitator.

Pada 17 Juli 2005, setelah perundingan selama 25 hari, tim perunding Indonesia berhasil mencapai kesepakatan damai dengan GAM di Vantaa, Helsinki, Finlandia. Penandatanganan nota kesepakatan damai dilangsungkan pada 15 Agustus 2005. Proses perdamaian selanjutnya dipantau oleh sebuah tim yang bernama Aceh Monitoring Mission (AMM) yang beranggotakan lima negara ASEAN dan beberapa negara yang tergabung dalam Uni Eropa. Di antara poin pentingnya adalah bahwa pemerintah Indonesia akan turut memfasilitasi pembentukan partai politik lokal di Aceh dan pemberian amnesti bagi anggota GAM.

Meski, perdamaian tersebut, sejatinya sampai sekarang masih menyisakan persoalan yang belum menemukan jalan keluar. Misal saja berkait dengan Tapol/Napol Aceh yang masih berada di penjara Cipinang, Jakarta seperti Ismuhadi, dkk. Selain juga persoalan kesejahteraan mantan prajurit kombatan GAM yang cenderung hanya dinikmati oleh segelintir elit.

Seluruh senjata GAM yang mencapai 840 pucuk selesai diserahkan kepada AMM pada 19 Desember 2005. Kemudian pada 27 Desember, GAM melalui juru bicara militernya, Sofyan Dawood, menyatakan bahwa sayap militer mereka telah dibubarkan secara formal.

Amar Ma'ruf Nahi Munkar di Awal Gerakan
Sebuah misi mulai GAM saat itu adalah menyarakan suapaya bebasnya rakyat Aceh menjalankan Syariat Islam. Maka satu-satunya jalan paling efektif adalah dengan cara memerdekakan diri dari repeblik Indonesia.

Banyak tempat maksiat gulung tikar dari Aceh saat GAM mulai bertaring, Ujong Blang Lhokseumawe sepi, Blang Kolam Kuta Makmur Tutup yang biasa tempat paling empuk pacaran anak muda era 80-an.

Perempuan Aceh yang tidak berhijab akan didenda oleh GAM, begitu juga dengan pakaian ketat dan dan busana yang tidak Islami. di rumah sekolah diseragamkan Islami, mulai dari guru, siswa dan siswi bahkan dari anak SD diseragamkan tutup aurat. sungguh cita-cita yang amat mulai ketika GAM mencari simpati dari rakyat.

Saat itu akyat bersama-sama sangat mendukung misi mulia itu, apalagi keadilan yang disuarakan dengan berbagai macam kemakmuran yang akan dicapai denagn nikmat kemerdekaan itu.

Semi Merdeka
Kini  Aceh telah merdeka, dakam tanda kutip bahwa Aceh telah mempunyai berbagai kebebasan dan kewenangan dalam banyak hal. dari MOU dan UUPA buah hasil perdamaian yang patut disyukuri.

Meski Merdeka yang hakiki telah sirna, namun tidak menjadi masalah jika potensi ini benar-benar dimamfaatkan dengan sebaik mungkin oleh segenap eti dan dukungan masyarakat.

Kata pepatah "Jikapun tak kau dapati semua, jangan kau tinggaklan seluruhnya." kini kita berharap kepada pemerintah Aceh yang berkuasa yang merupakan mayoritasnya alumni GAM yang punya niat luhur dimasa lalu. Saat belum memiiliki wewenang GAM mampu melalukan perubahan, namun bagaimana setelah kekuasaan ini mereka dapati.???

Mari kita tunggu, setelah penantian panjang itu.

Penulis:
Imam Mahdi Al-Huda
Mahasiswa UI, Asal Aceh

[Kirimkan Tulisan anda ke Email Redaksi: redaksikhabar@gmail.com]

Share this article :

Post a Comment

 
Support : Website | Berita dan Ispiratif | Khabar Populer
Copyright © 2016. KHABAR POPULER - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Khabarpopuler.com
Shared by Jejak Agama | Proudly powered by Site