Promo
Tahunan
×
Home » » Kisah Haru, Ibu-Anak Bertemu Setelah 10 Tahun Dipisah Tsunami

Kisah Haru, Ibu-Anak Bertemu Setelah 10 Tahun Dipisah Tsunami

Written By Martunis Nisam on Friday, 25 December 2015 | 23:05:00

AMALIAH (42) tak hentinya mengusap kepala gadis remaja itu di pangkuannya. Sesekali ia menyapu deraian air mata yang mengalir di wajahnya. Momen itu seolah menyiratkan ada kerinduan mendalam tersimpan lama di antara keduanya.

“Saya tak tahu harus berkata apa, namun saya sangat bersyukur kepada Allah karena bisa dipertemukan lagi dengan anak saya tercinta,” kata wanita itu didampingi suaminya, Septi Rangkuti (52). Rabu (6/8). Jamaliah, warga Desa Paringgonan, Padang Lawas, Padang Sidempuan, Sumatera Utara merasakan sebuah keajaiban.

Seperti mimpi yang hadir tiba-tiba. Ia kembali bertemu anaknya Raudhatul Jannah yang hilang saat bencana tsunami melanda Aceh 2004 silam. Pertemuan anak-ibu ini penuh liku yang membutuhkan waktu sepuluh tahun lamanya. Keduanya dipisahkan jarak beratus-ratus kilometer antara Aceh dan Sumatera Utara. Sementara sang anak, Raudhatul Jannah yang sudah beranjak remaja ternyata selama ini tinggal di Pulau Kayu, Kecamatan Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), diasuh seorang warga setempat. Bahkan kini ia telah berganti nama menjadi Wenni.

Saat dinyatakan hilang, Raudhatul Jannah masih berusia 4,5 tahun. Sementara pasangan Jamaliah dan Septi Rangkuti ketika bencana tsunami menerjang Aceh menetap di Lorong Kangkung, Desa Panggong, Kecamatan Johan Pahlawan, Meulaboh, Aceh Barat sebelum akhirnya pindah ke Sumatera Utara.

Pertemuan antara ibu dan anak itu bermula dari sebuah mimpi abang kandung suaminya, Zainuddin, yang tinggal di Blangpidie, Kabupaten Abdya sekitar satu bulan lalu. Dalam mimpinya, Zainuddin bertemu dengan seorang siswi SD yang baru pulang sekolah mengenakan jilbab. Tiba-tiba rambut anak itu jatuh ke pangkuannya yang membuat ia terbangun dari tidur.

Zainuddin diliputi rasa penasaran dengan mimpinya itu. Di suatu hari setelah mimpi itu terjadi, ia pergi mengisi pulsa telepon di sebuah kios yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Di saat itulah ia melihat seorang siswi SD baru saja pulang sekolah sambil membawa rapor bertemu orangtuanya. Zainuddin merasakan firasat lain karena kejadian itu hampir sama dengan apa yang dialami dalam mimpinya. Tak berapa lama kemudian, pemilik kios memberitahu bahwa anak perempuan dengan rapor sekolah di tangannya itu adalah yatim piatu korban tsunami.

Zainuddin makin penasaran. Ia lalu mecoba menoleh ke arah anak itu. Betapa ia kaget seketika. Wajah sang anak sangat mirip dengan adik kandungnya, Septi Rangkuti yang kini tinggal di Sumatera Utara.

“Setelah kejadian itu sang abang terus terbayang wajah anak itu dan ia berfirasat bahwa anak tersebut adalah anak adiknya yang hilang ketika musibah tsunami,” tutur Jamaliah.
Merasa yakin, Zainuddin kemudian semakin bersemangat mencari tahu informasi tentang anak tersebut. Sebuah berita kemudian sampai ke telinganya, bahwa remaja putri bernama Weni itu adalah korban tsunami yang terdampar di Pulau Banyak, Aceh Singkil dan sempat dirawat oleh satu keluarga nonmuslim di kawasan Ujung Sialit.

Namun entah bagaimana ceritanya, Wenni kemudian diasuh seorang wanita tua yang selama ini tak memiliki anak di Susoh, Abdya, dan merawatnya seperti anak sendiri.
Dalam kesehariannya, Wenni juga kerap mendapat uang jajan dari usahanya mencari botol minuman bekas untuk dijual di samping mencari lokan untuk membantu keluarga.
Zainuddin semakin yakin dengan firasat mimpinya dan menduga Wenni adalah benar keponakannya. Tak menunggu lama, akhirnya lelaki itu menelepon Jamaliah dan Septi Rangkuti agar ke Blangpidie untuk memastikan anak tersebut adalah anaknya yang hilang sepuluh tahun silam akibat bencana tsunami.

“Selama ini saya dan suami berfirasat anak saya masih hidup,” ujar Jamaliah.
Akhirnya bertemulah Wenni dengan pasangan suami istri itu. Dalam pertemuan itu Jamaliah merasa tersentak saat Wenni mengaku ia terdampar di Pulau Banyak bersama abang kandungnya bernama Arif Pratama Rangkuti di atas sebuah papan besar. Ingatan Jamaliah langsung tertuju pada peristiwa bencana tsunami 2004 silam.

Saat mereka terjebak tsunami, suaminya kala itu sempat menaikkan kedua anaknya ke sebuah papan besar. Namun naas mereka hanyut terbawa air dan menghilang. Sejak saat itu, Jamaliah dan suaminya serta seorang anaknya yang lain berpisah dengan keduanya. Hingga sepuluh tahun lamanya, kini Jamaliah kembali bertemu anaknya Raudhatul Jannah, tanpa sang abang, Arif Pratama Rangkuti.
Jamaliah mengaku sudah melaporkan kasus ini ke Mapolres Aceh Barat untuk memastikan Raudhatul Jannah adalah anak kandungnya. Untuk memastikan kebenarannya polisi pun berupa akan melakukan tes DNA guna memastikan apakah remaja perempuan bernama Weni ini adalah benar anak kandungnya yang sah.

“Kalau ada rejeki, saya juga akan ke Pulau Banyak untuk mencari anak laki-laki saya. Apalagi anak saya yang perempuan ini mengaku abangnya masih hidup,” kata Jamaliah berderai air mata.

Sumber: Serambi Indonesia
Share this article :

Post a Comment

 
Support : Website | Berita dan Ispiratif | Khabar Populer
Copyright © 2016. KHABAR POPULER - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Khabarpopuler.com
Shared by Jejak Agama | Proudly powered by Site