Promo
Tahunan
×
Home » » Makalah Ayat-Ayat Metode Pendidikan

Makalah Ayat-Ayat Metode Pendidikan

Written By Martunis Nisam on Monday, 25 May 2015 | 19:50:00

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
 Al-Qur’an ialah salah satu sumber hukum dan dalil hukum, dan sebagai petunjuk atau sebagai sumber dari ilmu pengetahuan yang berasal dari Allah supaya manusia menjadi makhluk yang mengenal Allah dan mampu mengemban amanah sebagai khalifah Allah. Tafsir Al-Qur’an adalah penjelas tentang maksud firman Allah sesuai kemampuan manusia. Kemampuan itu bertingkat-tingkat, sehingga yang dicerna atau yang diperoleh seorang penafsir dari Al-Qur’an bertingkat-tingkat pula.
Di dalam Al-Qur’an mengandung nilai-nilai pendidikan, pendidikan yang berlandaskan Al-Qur’an sebagai sumber utama. Dan didalam pendidikan terdapat metode dalam melakukan pendidikan. Oleh karena itu, dalam makalah ini kami menjelaskan tentang metode pendidikan yang terdapat pada Surat al-Maidah ayat 67, Surat al-Nahl Ayat 125, Surat al-‘Araf Ayat 176-177, dan Surat Ibrahim ayat 24-25.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, kami menyimpulkan beberapa masalah, yaitu:
1.      Bagaimana bunyi Surat al-Maidah ayat 67, Surat al-Nahl Ayat 125, Surat al-‘Araf Ayat 176-177, dan Surat Ibrahim ayat 24-25?
2.      Bagaimana terjemahan Surat al-Maidah ayat 67, Surat al-Nahl Ayat 125, Surat al-‘Araf Ayat 176-177, dan Surat Ibrahim ayat 24-25?
3.      Bagaimana tafsir dari Surat al-Maidah ayat 67, Surat al-Nahl Ayat 125, Surat al-‘Araf Ayat 176-177, dan Surat Ibrahim ayat 24-25?


BAB II
PEMAHASAN
A.    Ayat-Ayat al-Qur’an Tentang Metode Pendidikan
1.      Surat al-Maidah Ayat 67
$pkšr'¯»tƒ ãAqߧ9$# õ÷Ïk=t/ !$tB tAÌRé& šøs9Î) `ÏB y7Îi/¢ ( bÎ)ur óO©9 ö@yèøÿs? $yJsù |Møó¯=t/ ¼çmtGs9$yÍ 4 ª!$#ur šßJÅÁ÷ètƒ z`ÏB Ĩ$¨Z9$# 3 ¨bÎ) ©!$# Ÿw Ïöku tPöqs)ø9$# tûï͍Ïÿ»s3ø9$# ÇÏÐÈ  
Artinya:  “Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia[430]. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”(Qs.al-Maidah Ayat 67)

[430] Maksudnya: tak seorangpun yang dapat membunuh Nabi Muhammad s.a.w.
2. Surat al-Nahl ayat 125
äí÷Š$# 4n<Î) È@Î6y y7În/u ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ ÏpsàÏãöqyJø9$#ur ÏpuZ|¡ptø:$# ( Oßgø9Ï»y_ur ÓÉL©9$$Î/ }Ïd ß`|¡ômr& 4 ¨bÎ) y7­/u uqèd ÞOn=ôãr& `yJÎ/ ¨@|Ê `tã ¾Ï&Î#Î6y ( uqèdur ÞOn=ôãr& tûïÏtGôgßJø9$$Î/ ÇÊËÎÈ  
Artinya: “serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”(Qs. al-Nahl ayat 125)

[845] Hikmah: ialah Perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.”

1.      Surat al-‘Araf Ayat 176-177
öqs9ur $oYø¤Ï© çm»uZ÷èsùts9 $pkÍ5 ÿ¼çm¨ZÅ3»s9ur t$s#÷zr& n<Î) ÇÚöF{$# yìt7¨?$#ur çm1uqyd 4 ¼ã&é#sVyJsù È@sVyJx. É=ù=x6ø9$# bÎ) ö@ÏJøtrB Ïmøn=tã ô]ygù=tƒ ÷rr& çmò2çŽøIs? ]ygù=tƒ 4 y7Ï9º©Œ ã@sVtB ÏQöqs)ø9$# šúïÏ%©!$# (#qç/¤x. $uZÏG»tƒ$t«Î/ 4 ÄÈÝÁø%$$sù }È|Ás)ø9$# öNßg¯=yès9 tbr㍩3xÿtFtƒ ÇÊÐÏÈ   uä!$y ¸xsWtB ãPöqs)ø9$# z`ƒÏ%©!$# (#qç/¤x. $uZÏG»tƒ$t«Î/ öNåk|¦àÿRr&ur (#qçR%x. tbqãKÎ=ôàtƒ ÇÊÐÐÈ   
Artinya: “Dan kalau Kami menghendaki, Sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi Dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya Dia mengulurkan lidahnya (juga). demikian Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.
177. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim.”

4. al-Quran Surat Ibrahim Ayat 24-25
öNs9r& ts? y#øx. z>uŽŸÑ ª!$# WxsWtB ZpyJÎ=x. Zpt6ÍhŠsÛ ;otyft±x. Bpt7ÍhsÛ $ygè=ô¹r& ×MÎ/$rO $ygããösùur Îû Ïä!$yJ¡¡9$# ÇËÍÈ   þÎA÷sè? $ygn=à2é& ¨@ä. ¤ûüÏm ÈbøŒÎ*Î/ $ygÎn/u 3 ÛUÎŽôØour ª!$# tA$sWøBF{$# Ĩ$¨Y=Ï9 óOßg¯=yès9 šcr㍞2xtGtƒ ÇËÎÈ  
Artinya: “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik[786] seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. pohon itu memberikan buahnya pada Setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.

[786] Termasuk dalam kalimat yang baik ialah kalimat tauhid, segala Ucapan yang menyeru kepada kebajikan dan mencegah dari kemungkaran serta perbuatan yang baik. kalimat tauhid seperti laa ilaa ha illallaah.

B.     Penjelasan
1.      Isi Kandungan Ayat al-Maidah Ayat
Allah berfirman yang ditujukan kepada hamba sekaligus Rasul-Nya, Muhammad saw, atas nama kerosulan, serta menyuruhnya untuk menyampaikan semua yang dibawanya dari Allah. Maka sungguh beliau telah mentaati dan mengajarkan perintah itu dengan sempurna.
Dalam menafsirkan ayat tersebut, al-Bukhari mengatakan dari ‘Aisyah: “Barang siapa yang menceritakan kepadamu bahwa Muhammad menyembunyikan sesuatu dari apa yang telah diturunkan oleh Allah kepadanya, sungguh orang itu telah berdusta. Sebab Allah SWT berfirman: ‘Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu.” Firman-Nya: “dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.” Yakni, jika engkau menyembunyikan satu ayat yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu, berarti engkau tidak menyampaikan risalah-Nya.
Firman Allah: “Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.”
Maksudnya, sampaikanlah risalah-Ku, niscaya Aku akan menjaga, menolong dan mendukungmu dalam menghadapi musuh-musuhmu, serta memenangkan dirimu atas mereka. Maka janganlah engkau takut dan bersedih, karena tidak akan ada seorang pun yang dapat berlaku jahat terhadap dirimu dan menyakitimu.
Sebelum ayat ini turun Rasulullah dalam keadaan dijaga (dikawal), sebagaimana Imam Ahmad berkata: “Aisyah memberitahuhkan, bahwa Rasulullah pada suatu malam pernah tidak tidur malam, ketika itu ia (‘Aisyah) berada ke sisi beliau. Ia berkata: ‘lalu kutanyakan: ‘Ya Rosulullah, apa yang terjadi denganmu?’ Beliau menjawab: ‘Aku berharap ada seorang yang shalih dari para sahabatku yang menjagaku pada malam ini.” ‘Aisyah berkata: ‘ketika dalam keadaan itu, tiba-tiba aku mendengar suara senjata.’ Lalu beliau bertanya: ‘Siapa itu?’ orang itu menjawab: ‘Ini aku, Sa’ad bin Malik.’ Beliau bertanya: ‘Apa yang menjadikanmu datang ke sini?’ Ia menjawab: ‘Aku datang untuk menjagamu, ya Rosulullah.’ ‘Aisyah berkata: ‘Maka aku pun mendengar suara tidur Rosulullah.”(Al-Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan dalam ash-shahihain)
Firman-Nya: “Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” Maksudnya, sampaikanlah risalah Rabbmu, sebab Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya, sebagaimana Allah berfirman: “Bukanlah kewajibanmu memberi petunjuk kepada mereka, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikendaki-Nya,” (QS. Al-Baqarah: 272)[1]
Thabathaba’i juga membahas penempatan ayat ini, menegaskan bahwa ayat ini berbicara tentang satu masalah agama yang sangat khusus, yang bila tidak disampaikan, maka ajaran agama secara keseluruhan tidak beliau sampaikan. Thahir Ibn ‘Asyur menambahkan bahwa ayat ini mengingatkan Rasul agar menyampaikan ajaran agama kepada Ahl al-Kitab tanpa menghiraukan kritik dan ancaman mereka, apalagi teguran-teguran yang dikandung oleh ayat-ayat lalu harus disampaikan Nabi saw. Itu merupakan teguran keras, seperti banyak di antara mereka yang fasiq dan frman-Nya: ”Apakah akan aku beritakan kepada kamu tentang yang lebih buruk dari itu pembalasannya di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuk dan dimurkai Allah” dan lain-lain teguran tegas ini, pada hakikatnya tidak sejalan dengan sifat Nabi saw.[2]
2. Isi Kandungan Surat al-Nahl ayat 125
Al-Qurthubi menafsirkannya:
هذه الآية نزلت بمكة في وقت الامر بمهادنة قريش، وأمره أن يدعو إلى دين الله وشرعه بتلطف ولين دون مخاشنة وتعنيف، وهكذا ينبغى أن يوعظ المسلمون إلى يوم القيامة. فهى محكمة في جهة العصاة من الموحدين، ومنسوخة بالقتال في حق الكافرين. وقد قيل: إن من أمكنت معه هذه الاحوال من الكفار ورجى إيمانه بها دون قتال فهى فيه محكمة. والله أعلم.

Artinya: “(Ayat ini diturunkan di Makkah saat Nabi SAW. diperintahkan untuk bersikap damai kepada kaum Quraisy.  Beliau diperintahkan untuk menyeru pada agama Allah dengan lembut (talathuf), layyin, tidak bersikap kasar (mukhasanah), dan tidak menggunakan kekerasan (ta’nif). Demikian pula kaum Muslim; hingga Hari Kiamat dinasihatkan dengan hal tersebut. Ayat ini bersifat muhkam dalam kaitannya dengan orang-orang durhaka dan telah di-mansûkh oleh ayat perang berkaitan dengan kaum kafir.  Ada pula yang mengatakan bahwa bila terhadap orang kafir dapat dilakukan cara tersebut, serta terdapat harapan mereka untuk beriman tanpa peperangan, maka ayat tersebut dalam keadaan demikian bersifat muhkam Wallâhu a’lam.)”[3]
Dari penafsiran terlihat bahwa sebagian para ulama memahami sebagai penjelasan  tiga macam metode dakwah yang harus disesuaikan dengan sasaran dakwah. Terhadap cendekiawan yang memiliki pengetahuan tinggi diperintahkan menyampaikan dakwah dengan hikmah, yakni berdialog dengan kata-kata bijak sesuai dengan tingkat kepandaian mereka. Terhadap kaum awam diperintahkan untuk menerapkan mauizhah, yakni memberikan nasihat dan perumpamaan yang menyentuh jiwa sesuai dengan taraf pengetahuan mereka yang sederhana. Sedangkan terhadap Ahl al-Kitab dan penganut agama-agama lain, yang diperintahkan adalah jidaal/perdebatan dengan cara yang terbaik, yaitu dengan logika dan retorika yang halus, lepas dari kekerasan dan umpatan.[4]
Dalam tafsiran lepas, menurut hemat penulis bahwa wajar saja ayat ini para ulama berpendapat bahwa ayat 125 surat An-Nahl merupakan ayat mengenai dakwah.  Ayat ini diawali dengan kata ud’u yang berasal dari kata da’a—yad’u yang membentuk kata da’watan (da’wah) sebagai masdarnya. Kamus Besar bahasa Indonesia mengartikannya penyiaran; propaganda;penyiaran agama di kalangan masyarakat dan pengembangannya; seruan untuk memeluk, mempelajari, dan mengamalkan ajaran agama.[5]
Agar tidak terjadi salah persepsi mengkontekstualisasikan makna yang tersirat dalam Surat An-Nahl ayat 125 dalam konteks pendidikan, maka menjadi penting untuk memahami dan mempertemukan dakwah dan pendidikan berdasarkan definisinya. Dakwah dan pendidikan terdapat kesamaan dalam masing-masing komponen. Sehingga metode yang menjadi sarana dakwah ini juga dapat diterapkan dalam dunia pendidikan.
Kesamaan tersebut yang pertama, yaitu adanya subjek. Dalam konteks dakwah disebut da’i, sedangkan dalam konteks pendidikan disebut pendidik atau guru. Kemudian, kedua adanya objek, dalam perspektif dakwah disebut mad’u,sedangkan dalam perspektif pendidikan disebut peserta didik atau siswa/peserta didik.
Kemudian komponen ketiga adalah adanya materi, hanya saja materi dakwah lebih terfokus pada ilmu agama. Sedangkan materi pendidikan lebih luas dari itu, tidak hanya menyangkut ilmu agama saja, melainkan juga ilmu-ilmu yang lain, seperti ekonomi, kewarganegaraan, fisika dan lain sebagainya.
Adapun komponen keempat, yaitu adanya tujuan yang hendak dicapai, yaitu perubahan ke arah yang positif (perubahan Jasmani maupun rohani) terhadap objek (mad’u atau peserta didik) sasarannya, melalui transformasi ilmu pengetahuan dan nilai-nilai atau ajaran-ajaran yang disampaikan melalui aktifitas dan prosesnya masing-masing. Sehingga objek (mad’u atau peserta didik) tersebut menjadi manusia yang lebih baik dan sempurna serta bertakwa kepada Allah.
3.  Isi Kandungan Qs. al-‘Araf ayat 176-177
Dalam ayat ini dijelaskan bahwa kehendak Allah itu mengikuti amal kita. Dalam penciptaan, kita diberi kemampuan (potensi) untuk berikhtiar (berusaha dan memilih). Dengan potensi ikhtiar kita bisa berbuat sesuatu amal yang berpahala atau yang mengandung dosa. Jika seseorang memilih kebajikan, Allah memberi jalan-jalan yang memudahkannya, demikian pula sebaliknya, bagi mereka yang memilih kejahatan (kemaksiatan) juga diberi jalan untuk itu.[6]
Dalam ayat ini diterangkan bahwa bagi orang yang mengamalkan ayat-ayat Allah akan di tinggikan derajatnya, dan bagi orang  yang tidak mengamalkan ayat-ayat Allah karena cenderung kepada dunia dan mengikuti hawa narfsunya, maka Allah tidak akan memberikan hidayah baginya. Orang yang seperti itu diumpamakan seperti seekor anjing apabila dihalau ia mengululurkan lidahnya dan apablia dibiarkan ia mengulurkan lidahnya pula. Begitu hinanya orang yang tidak mengamalkan ayat-ayat Allah sehingga Allah akan memberikan peringatan kepada orang yang demikian itu.
Garis besar yang dapat ditarik dari penjelasan Q.S. Al – A’raf ayat 176 - 177, dalam ruang lingkup pendidikan menggunakan metode cerita. Islam menyadari sifat alamiah manusia untuk menyenangi cerita itu, dan menyadari pengaruhnya yang besar terhadap perasaan. Oleh karena itu Islam mengeksploitasi cerita itu untuk dijadikan salah satu teknik pendidikan. Al-Qur’an mempergunakan cerita sebagai alat pendidikan, seperti: cerita tentang Nabi atau Rasul terdahulu, cerita kaum yang hidup terdahulu baik yang ingkar kepada Allah atau pun yang beriman kepada-Nya.[7]
4.     Isi Kandungan Q.S. Ibrahim Ayat  24-25
Perumpamaan yang disebutkan dalam ayat ini ialah perumpamaan mengenai kata-kata ucapan yang baik, misalnya kata-kata yang mengandung ajaran tauhid, atau kata-kata lain yang mengajak manusia kepada kebajikan dan mencegah mereka dari kemungkaran. Kata-kata semacam itu diumpamakan sebagai pohon yang baik, akarnya teguh menghunjam ke bumi.
Agama Islam mengajarkan kepada umatnya agar membiasakan diri menggunakan ucapan yang baik, yang berfaedah bagi dirinya, dan bermanfaat bagi orang lain. Ucapan seseorang menunjukkan watak dan kepribadian serta adab dan sopan santunnya. Sebaliknya, setiap muslim harus menjauhi ucapan dan kata-kata yang jorok, yang dapat menimbulkan rasa jijik bagi yang mendengarnya.
Dalam ayat ini digambarkan bahwa pohon yang baik itu selalu memberikan buahnya kepada setiap manusia. Begitu juga halnya dengan manusia, ia juga harus bermanfaat bagi orang lain. Setiap orang yang memperoleh ilmu pengetahuan dari seorang guru haruslah bersyukur kepada Allah karena pada hakekatnya ilmu pengetahuan yang telah di perolehnya melalui seseorang adalah karunia dan rahmat dari Allah SWT.[8]
Garis besar yang dapat ditarik dari penjelasan Q.S. Ibrahim ayat 24-25, dalam ruang lingkup pendidikan menggunakan 2 metode, yaitu:
a.      Metode perumpamaan
Dalam dunia pendidikan, membuat perumpamaan akan membantu memahamkan dan mengingatkan peserta didik terhadap makna perkataan, karena hati lebih mudah di lunakkan dengan perumpamaan-perumpamaan. Dengan perumpamaan, sesuatu yang rasional bisa disesuaikan dengan sesuatu yang indrawi. Maka, tercapailah pengetahuan yang sempurna tentang sesuatu yang diumpamakan.
b.    Metode kontemplasi
Dalam ayat ini memberikan gambaran kepada kita untuk merenungi dan mentafakuri ciptaan Allah SWT agar dapat diambil hikmah dan pelajarannya. Dengan metode kontemplasi, pendidik dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari kandungan ayat - ayat Allah yang memiliki kandungan-kandungan makna yang tersirat, sehingga dapat menyampaikannya kepada peserta didik.
Metode pendidikan yang baik dalam kegiatan belajar mengajar harus:
1.     Menggunakan perumpamaan yang baik-baik saja agar mendapatkan contoh yang baik sehingga peserta didik dapat menirunya.
2.     Menggunakan kata-kata yang baik dan benar agar peserta didik mampu menyerap manfaat darinya.
3.     c.    tidak diperbolehkan menggunakan kata-kata buruk yang dapat mempengaruhi perilaku siswa.
4.      d.   senantiasa menggunakan Al-Qur’an dan Hadits sebagai acuan dalam kegiatan belajar mengajar.  


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dalam ayat tersebut diterangkan bahwa bagi orang-orang yang mengamalkan ayat-ayat Allah akan di tinggikan derajatnya, dan apabila bagi orang-orang yang tidak mengamalkan ayat-ayat Allah karena cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa narfsunya. maka Allah tidak akan memberikan hidayah baginya. Orang yang seperti itu diumpamakan seperti seekor anjing apabila dihalau ia mengululurkan lidahnya dan apablia dibiarkan ia mengulurkan lidahnya pula. Begitu hinanya orang yang tidak mengamalkan ayat-ayat Allah sehingga Allah akan memberikan peringatan kepada orang yang demikian itu.
Dalam ayat ini menggunakan metode cerita dalam ruang lingkup pendidikan.
B.      Saran
            Dalam sebuah peribahasa disebutkan “Tiada Gading yang Tak Retak” dan juga tidak ada satupun yang sempurna didunia ini, karena kesmpurnaan hanya milik Allah, begitupun makalah ini yang kami yakin masih jauh dari kesempurnaan, maka dari itu saran maupun kritik membangun dari semua pihak.



DAFTAR PUSTAKA


‘Abdullah bin Muhammad Alu Syaikh, Labaabut Tafsir Min Ibni Katsir, Terjemah ‘Abdul Ghoffur, (Jakarta: Pustaka Imam Asy-syafi’i, 2008.

M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: pesan, kesan dan keserasian Al-qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, 2002.

Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr bin Farah al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi, (Kairo: Dâr Sya’b, 1373 H.
Shihab al-Din al-Alusi, Rûh al-Ma’ânî,  (Beirut. Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1993.
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, ed.III, cet. ke-3, (Jakarta: Balai Pustaka, 2007.

Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy,  Tafsir Al-Qur’anul Majid An-Nuur, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2000.

Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung: Pustaka Setia,  1997), hal. 153.

Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya jilid 5, (Jakarta: Lentera Abadi, 2010.





[1]‘Abdullah bin Muhammad Alu Syaikh, Labaabut Tafsir Min Ibni Katsir, Terjemah ‘Abdul Ghoffur, (Jakarta: Pustaka Imam Asy-syafi’i, 2008), hal, 154-156.

[2]M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: pesan, kesan dan keserasian Al-qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm 151-152.

[3]Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr bin Farah al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi, (Kairo: Dâr Sya’b, 1373 H), hal. 200.

[4]Shihab al-Din al-Alusi, Rûh al-Ma’ânî,  (Beirut. Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1993), hal. 774-775.

[5]Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, ed.III, cet. ke-3, (Jakarta: Balai Pustaka, 2007), hal. 232.

[6]Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy,  Tafsir Al-Qur’anul Majid An-Nuur, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2000), hal. 1512.


[7]Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung: Pustaka Setia,  1997), hal. 153.

[8]Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya jilid 5, (Jakarta: Lentera Abadi, 2010), hlm. 144-145.
Share this article :

Post a Comment

 
Support : Website | Berita dan Ispiratif | Khabar Populer
Copyright © 2016. KHABAR POPULER - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Khabarpopuler.com
Shared by Jejak Agama | Proudly powered by Site